Nilai Try Out

NILAI TRY OUT JELEK???

Jangan selalu salahkan siswa atau anak anda.

( Oleh Faiz )

                    

Try out diadakan oleh sekolah – sekolah di seluruh Indonesia, bahkan ada yang mengadakan try out secara bersama sama dalam satu kota atau kabupaten dengan soal yang dibuat oleh team bukan guru yang mengajar di sekolah masing masing yang mana mempunyai siswa dengan kemampuan yang berbeda beda. Biasanya try out diadakan berkali kali dalam satu semester dengan harapan siswa dapat termotivasi untuk belajar sehingga pada try out try out berikutnya nilai mereka lebih baik. Tetapi kenyataannya hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Hasil try out berikutnya lebih jelek daripada sebelumnya kecuali beberapa siswa yang telah benar benar memanfaatkan waktunya  untuk menyiapkan segala macam bentuk ujiannya.

Mengapa hal ini terjadi harus dipahami oleh semua pihak, baik oleh para pendidik, para pembuat kebijakan atau orang tua siswa. Sehingga ketika siswa tidak mendapatkan nilai baik atau paling tidak nilai pada try out yang ke dua dan seterrusnya lebih baik dari pada nilai pada try out sebelumnya, kita tidak langsung menyalahkan siswa.

Nilai siswa jelek, bukan berarti perubahahan tingkah laku pada siswa tidak terjadi selama proses belajar mengajar. Mengapa nilai try out selalu jelek bisa dijelaskan sebagai berikut. Pertama, soal soal  try out dibuat secara realatif hampir bersamaan. Artinya, soal try out yang ke dua tidak dibuat setelah pembuat soal melakukan item analysis yang akan mengahasilkan soal untuk try out yang kedua dan seterusnya. Dengan kata lain kalau soal try out yang pertama dianalisa bukan untuk pembuatan soal yang kedua karena soal try out kedua sudah siap dicetak dalam percetakan. Kedua, dengan mengambil contoh bahasa Inggris, cakupan materi ( content coverage) yang harus siswa pelajari terlalu banyak yaitu dua standar kompetensi dengan kemampuan yang diuji sebanyak enam belas. Content coverage yang terlalu luas menyebabkan rendahnya content validity. Seperti yang dikatakan Gronlund (1985:59) menjelaskan sebagai berikut,

The essence of content validation is determining the adequacy of sampling. More formally, content validation is the process of determining the extent to which a set of tasks provides a relevant and representative sample of the domain of tasks under consideration.

 

Jumlah kemampuan yang diuji jauh lebih banyak daripada kemampuan yang diuji ketika penulis menjadi siswa kelas 3 SMP.. Ketiga, dengan jumlah cakupan yang terlalu besar, dengan tidak sadar kita telah “membunuh”  minat siswa untuk belajar pelajaran itu. Dengan kata lain, materi yang terlalu sulit atau karena terlalu banyaknya kata kata yang harus dihafal oleh para siswa, menyebabkan mereka gagal untuk memiliki apa yang disebut intrinsic motivation.

Dari ketiga penjelasan di atas kita para pendidik dan orang tua tidak bisa memvonis bahwa para siswa tidak mau belajar dan para siswa tiadak mempunyai minat untuk belajar atau pelajaran tambahan tidak ada gunanya. Karena apakah siswa mau belajar atau tidak, tidak terlepas dari system pendidikan yang ada di negara tercinta ini. Juga dapat dikatakan bahwa sebenarnya selama proses pembelajaran berlangsung para siswa sedikit demi sedikit mengalami perubahan tingkah laku yang karena test yang diberikan tidak mempunyai bukti validitas isi yang tinggi, walau para siswa diberi tambahan pelajaran pagi, siang atau sore, seolah olah mereka tidak mendapatkan apa apa. Sehingga mereka mendapatkan nilai rata rata 5,7 pada tryt out ke satu, bisa jadi mereka mendapatkan nilai lebih rendah pada try out ke dua atau mungkin nilainya sama untuk try out berikutnya. Hasil penilain ini tidak menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Dengan demikian masih tegakah kita selalu menyalahkan anak didik kita sementara para pelaku pendidikan masih belum melakukan peningkatan mutu pendidikan?

Untuk alasan di atas para pendidik seharusnya, pertama membuat soal yang benar benar menghasilkan gambaran tentang pengetahuan siswa. Lalu menganalisanya untuk membuat soal berikutnya untuk mengetahui perkembangan perubahan tingkah laku setelah para pendidik mengadakan apa yang disebut dengan remedial teaching. Dan tak kalah pentingnya adalah cakupan materi yang terlalu banyak telah membuat siswa benar benar harus memeras otak. Padahal otak yang diperas tidak menghasilka apa apa lagi. Penulis yakin para pendidik tidak bisa mengubah jumlah cakupan tersebut kecuali hanya bisa berdoa dan menerima celaan orang tua atau siapa saja karena hasil try out yang begitu memprihatinkan. Bersabar ya pak guru dan ibu guru.

 

$$$$$$$$$$$$

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: